E-KTP: Proyek Gagal atau Kebohongan Publik?

Sebagai warga negara yang baik, kita tentu berusaha mendukung setiap program yang dilaksanakan oleh pemerintah. Salah satunya adalah pengadaan sistem e-KTP, yakni Kartu Tanda Penduduk Elektronik. Saat pertama kali mendengar isu tentang e-KTP di tahun 2011, saya sangat bersemangat mengingat Indonesia memang perlu segera menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang semakin modern. Harapan saya juga e-KTP ini bisa meminimalisir identitas palsu yang konon sangat mudah dibuat oleh jaringan teroris atau kriminal.

Ketika mendapat panggilan untuk giliran perekaman untuk pembuatan e-KTP, saya bergegas meluangkan waktu ke Kecamatan Jati Asih, Bekasi. Itu adalah tahun 2011 saat saya masih lajang dan cerah ceria tetap sumringah walaupun harus mengantri nomor sedari pagi dan menunggu hingga sore hari. Selanjutnya tidak ada kabar lagi. Euforia akan punya e-KTP seperti mati ditelan ketidakjelasan birokrasi dan minimnya sosialisasi. Jadwal kerja dan tenggat waktu pemerintah ini seolah hanya Tuhan yang tahu, bahkan kalau kita tanya ke pejabat atau petugas yang bersangkutan juga mereka tidak tahu kapan selesainya.

Lucunya, ketika akhirnya di tahun 2012 saya telah menikah dan berpindah domisili ke Kecamatan Medan Satria (masih Bekasi juga), saya menemukan bahwa e-KTP keluarga saya sudah jadi di Kelurahan Jati Rasa dan bisa diambil. Ini harus kami yang berinisiatif menanyakan nasib kejelasan e-KTP, bukan hasil sosialisasi dari petugas pemerintah. Akan tetapi, karena saya sudah memiliki KK sendiri dan KTP baru di Kelurahan Pejuang, e-KTP saya tidak ada di situ karena menurut petugas data saya telah dipindahkan.

Karena saya begitu mempercayai bahwa pemerintah yang sekarang berbeda dengan yang dulu berbelit-belit dan sudah bersih bahkan tertata rapi, saya dengan sabar menanti sepanjang tahun 2013 karena menurut para petugas pemerintah di kelurahan/kecamatan yang dulu maupun sekarang yang harus saya lakukan hanyalah menunggu kabar dari RT. Ya, menunggu.

Kini sudah tahun 2014 bulan kedua, tepat di Hari Valentine yang penuh kasih sayang ini saya berinisiatif ke Kantor Kecamatan Medan Satria untuk memeriksa. Mungkin sama kasusnya seperti dulu, e-KTP sudah jadi, namun tidak dikabari (padahal mertua saya dari dulu sampai sekarang jadi Ketua RT). Akan tetapi, yang muncul hanyalah surat untuk panggilan warga yang belum pernah membuat e-KTP. Katanya perlu pendataan penduduk untuk membantu kesuksesan pemilu 2014 mendatang.

Saya tentu saja sangat yakin bahwa e-KTP saya pasti sudah selesai dan bisa diambil sekarang. Masa iya butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk membuatkan e-KTP seorang Gabriela Sarah Sharron Lengkong?

Sayangnya, ternyata iya! Dari saya masih lajang hingga sekarang sudah beranak e-KTP saya juga masih belum ada, bahkan tidak jelas juntrungannya.

Mungkinkah saya yang terlalu naif mengurus e-KTP terlalu bersih, tidak pakai uang pelicin atau bagaimana supaya cepat? Katanya kan gratis. Saya sudah berusaha memperhatikan dan menjalankan kewajiban saya sebagai warga negara sebaik mungkin, tapi lalu bagaimana kinerja pemerintah saya?

Ibu berjilbab yang melayani saya apa adanya, eh salah, seadanya.

Ibu berjilbab yang melayani saya apa adanya, eh salah, seadanya.

Yang saya dapatkan pagi tadi hanyalah sambutan dingin dari para petugas kantor Kecamatan Medan Satria di lantai 2. Tidak ada senyum yang ramah sesuai tulisan standard pelayanan yang dipasang di dinding (mungkin memang hanya untuk menjadi pajangan saja). Tidak ada usaha untuk “Coba saya periksa dulu datanya”, hanya bilang “Kita belum ada pengiriman lagi sejak Agustus (tahun lalu)”.

Serius?

Serius?

Saya bilang kalau memang data saya hilang, bagaimana jika saya difoto dan rekam ulang untuk e-KTP? Mereka bilang tidak bisa, nanti datanya jadi ganda. Lho, ya kalau sudah on-line kan tinggal dihapus datanya yang lebih kan bisa. Lagipula, kalaupun memang data saya ada, kenapa tidak segera diurus? Apa ini sebenarnya SDM-nya yang tidak dilatih atau tidak mengerti menggunakan sistem input data elektronik atau bagaimana? Kenapa sulit sekali padahal harusnya mudah?

Kini saya hanya bisa pasrah. Selamat bagi yang sudah memiliki e-KTP. Doakan saya dan orang-orang lainnya (saya tidak sengaja menemukan ternyata banyak juga yang mengeluh e-KTP mereka masih tidak jelas nasibnya) bisa segera memilikinya juga.

Mudah-mudahan proyek e-KTP ini tidak menjadi proyek gagal ataupun kebohongan publik semata. Saya tidak tahu berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk anggaran e-KTP, tapi harusnya tidak kecil. Sungguh buang-buang uang negara kalau itikad baik saya hanya ditanggapi petugas pemerintah: “Punya KTP lama kan? Pake itu aja.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s